resep takjil

Strategi UMKM Kuliner Tingkatkan Penjualan Takjil di Ramadan 2026

Strategi UMKM Kuliner Tingkatkan Penjualan Takjil di Ramadan 2026
Strategi UMKM Kuliner Tingkatkan Penjualan Takjil di Ramadan 2026

JAKARTA - Menghadapi persaingan bisnis kuliner yang kian kompetitif, para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dituntut untuk tidak hanya sekadar menjual produk, tetapi juga menawarkan konsistensi rasa yang mampu bersaing di pasar digital. Ramadan selalu menjadi panggung pembuktian bagi mereka yang mampu menjaga kualitas di tengah badai pesanan yang memuncak. Inovasi pada menu-menu tradisional kini menjadi kunci untuk memikat konsumen milenial dan Gen Z yang haus akan visual menarik namun tetap menginginkan keaslian rasa. Melalui penggabungan teknik profesional dan bahan baku berkualitas, transisi dari pedagang musiman menjadi pelaku usaha yang memiliki standar operasional matang menjadi sangat mungkin dilakukan. Langkah ini bukan sekadar tentang meraup keuntungan sesaat, melainkan tentang membangun fondasi bisnis yang berkelanjutan melalui kepercayaan pelanggan yang terjaga selama bulan suci.

Manajemen Kualitas UMKM di Tengah Lonjakan Permintaan Ramadan

Ramadan selalu menjadi momentum penting bagi pelaku usaha kuliner, khususnya sektor UMKM. Lonjakan konsumsi makanan dan minuman berbuka puasa membuka peluang bisnis yang besar, terutama pada kategori takjil yang didominasi menu manis dan minuman segar. Di tengah perubahan tren kuliner digital yang cepat, menu klasik tetap memiliki daya tarik tersendiri namun membutuhkan sentuhan baru agar tetap relevan.

Marketing Manager PT Etika Beverages Indonesia, Dodi Afandi, menekankan bahwa tantangan sesungguhnya bagi pengusaha kecil adalah bagaimana mempertahankan standar produk saat permintaan sedang tinggi-tingginya. Menurutnya, Ramadan bukan hanya momen peningkatan transaksi, tetapi juga ujian konsistensi operasional bagi pelaku usaha kuliner. “Di tengah lonjakan permintaan, pelaku usaha harus menjaga konsistensi kualitas agar kepercayaan konsumen tetap terjaga. UMKM membutuhkan dukungan yang tidak hanya berfokus pada produk, tetapi juga solusi untuk membantu menjaga kualitas dan efisiensi operasional, sehingga dapat memenuhi ekspektasi konsumen selama Ramadan,” ujarnya.

Kolaborasi Strategis untuk Inovasi Menu Es Teler Modern

Menyadari kebutuhan akan inspirasi menu yang praktis namun bernilai jual tinggi, Dairy Champ mengambil langkah kolaboratif dengan merangkul pakar kuliner. Menyambut Ramadan tahun ini, perusahaan berkolaborasi dengan Chef Martin Praja untuk memperkenalkan menu inovatif “Es Teler Milky Pudding Juara”. Kreasi ini diharapkan menjadi standar baru bagi UMKM dalam menyajikan menu takjil yang naik kelas.

Inovasi ini mengadaptasi es teler sebagai menu klasik dengan sentuhan modern tanpa menghilangkan karakter rasa autentiknya, sekaligus dirancang agar praktis diterapkan oleh pelaku UMKM maupun pengguna rumahan. Es teler dipilih karena posisi kuatnya sebagai favorit masyarakat Indonesia berkat perpaduan rasa segar, manis, dan creamy.

Konsistensi Bahan Baku Sebagai Kunci Keberhasilan Produksi

Dalam pandangan profesional, pemilihan material dasar merupakan faktor penentu yang seringkali diabaikan oleh pelaku usaha pemula. Chef Martin Praja menilai es teler memiliki posisi kuat sebagai takjil favorit karena kesesuaian profil rasanya dengan selera lokal. Namun, tantangan terbesar ada pada stabilitas rasa saat produksi dilakukan dalam skala besar.

“Untuk menghasilkan rasa yang autentik dan konsisten, pemilihan bahan baku berkualitas dan stabil sangat penting. Dairy Champ dapat menghadirkan rasa yang lebih konsisten, creamy, dan seimbang, sehingga hasil akhir mudah dikontrol baik untuk kebutuhan rumahan maupun produksi UMKM selama Ramadan,” jelas Chef Martin. Penggunaan bahan yang stabil membantu pelaku usaha menghindari kerugian akibat variasi rasa yang tidak menentu.

Tantangan Ulasan Digital dan Kepercayaan Konsumen

Dinamika bisnis kuliner saat ini tidak bisa lepas dari pengaruh ulasan di platform digital dan layanan pesan-antar. Sedikit kesalahan dalam rasa bisa berakibat fatal bagi reputasi sebuah merek kuliner di mata publik. Hal ini ditegaskan oleh Najla Bisyir, influencer sekaligus pemilik bisnis kuliner Bittersweet by Najla, yang memandang Ramadan sebagai periode paling menantang.

“Tantangan bagi kami adalah menjaga rasa tetap konsisten saat terjadi lonjakan permintaan. Konsumen kini semakin kritis, terutama di era layanan pesan-antar dan ulasan digital. Sedikit perubahan rasa bisa berdampak pada persepsi konsumen. Karena itu konsistensi rasa dan standar produksi menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan pelanggan,” ungkap Najla. Penekanan pada standarisasi menjadi mutlak dilakukan agar usaha kuliner tetap kompetitif.

Kompetisi Digital dan Pemberdayaan Komunitas Kuliner

Sebagai bagian dari upaya memperkuat daya saing UMKM, Dairy Champ tidak hanya menyediakan bahan baku, tetapi juga mengedukasi pasar melalui konten digital. Perusahaan membagikan resep kreasi tersebut serta menggelar program partisipatif bertajuk Dairy Champ Ramadan Recook Competition. Kompetisi yang berlangsung 11 Februari hingga 15 Maret 2026 ini dirancang untuk memicu kreativitas masyarakat dalam mengolah menu berbuka.

Inisiatif ini mengajak masyarakat berkreasi dengan bahan kental manis dan susu evaporasi, dengan hadiah utama bagi tiga pemenang serta sejumlah hadiah hiburan bagi peserta terpilih. Melalui langkah-langkah ini, perusahaan menegaskan perannya sebagai mitra strategis bagi pelaku usaha kuliner, mulai dari menjaga efisiensi produksi hingga menghadirkan inspirasi inovasi menu yang mampu bersaing di tengah dinamika pasar yang terus berubah.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index